Keunikan Bahasa Jawa Banyumas dari Fonologi & Morfologi - Bahasa Gaul

Keunikan Bahasa Jawa Banyumas dari Fonologi & Morfologi

Keunikan Bahasa Jawa Banyumas dari Fonologi & Morfologi - Piwen gan, kabare apik mbok? Nek ra apik kowe ra bakal gedug ngeneh macani tulisan kiye. Bagaimana gan, kabar baik bukan? Kalau tidak baik kamu tidak akan sampai disini membaca tulisan ini.

Sebelum berbicara mengenai ‘keunikan’-nya, mari kita cari tahu terlebih dahulu “Apa sih Bahasa Jawa Banyumasan?”

Bahasa Jawa Banyumasan adalah bahasa Jawa yang dituturkan oleh kelompok kebudayaan yang berada di wilayah eks-Karisidenan Banyumas dan sekitarnya; serta beberapa daerah di luar eks-Karisidenan Banyumas yang disebabkan oleh perpindahan penduduk baik transmigrasi, urbanisasi, atapun bedol desa.

Bahasa Jawa Banyumasan menurut sejarah merupakan bahasa yang dipakai oleh orang kelas rendah (buruh, pembantu)  yang  dituturkan oleh utusan keraton (bandeg/bandek) sehingga bahasa tersebut dikenal sebagai bahasa mbandekan (mbandegan). Selain itu, Bahasa Jawa Banyumasan dikenal dengan bahasa ngapak (bahasa yang dicirikan dengan pengucapan fonem [k] di akhir kata secara jelas).

Selain mbandeg dan ngapak, sesuai dengan maskot Kabupaten Banyumas, Bawor (salah satu nama tokoh punakawan Banyumasan, nama umum: Bagong) yang dikenal dengan sosok yang cablaka, Bahasa Jawa Banyumasan dikenal dengan istilah bahasa

Cablaka atau Blaka Suta (Blaka: terus terang, Suta: anak kecil) yang bermakna terus terang seperti bahasa anak kecil sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan sesama penguna bahasa Jawa Banyumasan.

Bagaimana? Sudah paham apa itu bahasa Jawa Banyumasan?

Wah nek esih bingung yang jajal digawa ngopi disit terus bar kuwe njajal nggolet neng mbah Google.
(Wah kalau masih bingung dibawa ngopi dulu abis itu coba cari di Google)

Sekarang kita coba uraikan beberapa keunikan bahasa Jawa Banyumasan berdasarkan fonologi dan morfologinya.

====================================================================
 BMS: Bahasa Jawa Banyumasan
 STD: Bahasa Jawa Standar
 ID: Bahasa Indonesia
====================================================================

1. Fonem [k] pada akhir kata dalam BMS diucapkan secara jelas dan cenderung ditekankan, namun dalam STD cenderung lesaf atau tidak jelas.
BMS: [bapak]
STD: [bapa?]

2. Fonem [b], [d], dan [g] pada akhir kata diucapkan secara jelas pada BMS, sementara dalam STD diucapkan sebagai fonem [p], [t],  dan [k].
BMS: [sebab], [saged], [budeg]
STD: [sebap], [saget], [budek]
ID: sebab, bisa, tuli

3. BMS tidak mengenal fonem diftong (vokal ganda yang seolah menghadirkan fonem lain). Dalam STD fonem diftong dipakai untuk menyatakan makna ‘sangat’, sementara dalam BMS mengganti penggunaan diftong (penyangatan dalam STD) dengan kata ‘pisan’, ‘banget’, atau istilah lain yang menjadi morfem terikat pada kata tertentu.
BMS: [lara banget], [ijo royo]
STD: [lu{w}oro], [u{w}ijo]
ID: sakit sekali, sangat hijau

4. Morfem prefiks [-i] pada kata berakhiran [h] berubah posisi menjadi posisi kedua terakhir [-ih].
BMS: [ngumbaih]
STD: [ngumbahi]
ID: mencuci

5. Morfem sufiks [-kan] pada BMS diucapkan menjadi morfem [-na] atau [-kna] sementara dalam STD diucapkan mnejadi mofem [-ake] atau [-kake].
BMS: [gawekna]
STD: [damelake]
ID: buatkan

6. Morfem prefiks [di-] dalam BMS berubah menjadi morfem [de-] sementara dalam STD tetap [di-].
BMS: [dejotosi]
STD: [dijotos]
ID: dipukuli

7. Untuk menyatakan arah tujuan, morfem prefiks [N-] (nasal) dipakai dan diletakkan sebelum kata yang menunjukan nama lokasi atau tujuan.
A: “Rika arep ming ngendi man, deneng nggawani koper mbarangan?” (Anda (pada orang yang lebih tua) mau ke mana man (panggilan paman), lho kok membawa koper segala?)
B: “Arep ngode 'mBandung', Jar.” (Mau bekerja ke Bandung).

8. Fonem [a] pada beberapa kosakata Jawa, dalam STD berubah menjadi fonem [o] (dalam segi pengucapan) sementara dalam BMS tetap menjadi fonem [a] .
BMS: [apa]
STD: [opo]

9. Dan masih banyak lagi.

Sebenarnya masih banyak keunikan segi fonologi dan morfologi Bahasa Jawa Banyumasan, namun karena keterbatasan waktu dan pikiran, saya hanya menemukan setidaknya delapan keunikan yang telah diuraikan diatas. (untuk melengkapi postingan ini, saya melampirkan beberapa berkas terkait dengan postingan ini).

Mungkin sekian dulu “Keunikan Bahasa Jawa Banyumasan”, namun sebelum diakhiri perlu dicatat bahwa keunikan yang telah diuraikan diatas tidak bersifat mutlak dalam arti dipakai oleh semua penutur melainkan bergantung pada waktu dan tempat dimana Bahasa Jawa Banyumasan  dituturkan.

Sekian Keunikan Bahasa Jawa Banyumas (Fonologi & Morfologi)
Lihat juga :

Tunggu Update Terbaru di Bahasagaul.id

0 Response to "Keunikan Bahasa Jawa Banyumas dari Fonologi & Morfologi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

bahasagaul.id 1

bahasagaul.id 2

Iklan Bawah Artikel